SEJARAH SKIZOFRENIA
- Emile Kraeplin (1856-1926)
Adalah seorang bapak psikiatri modern, menyebut gangguan skizofrenia sebagai dementia praecox, dari bahasa latin yang diartikan sebagai "sebelum tingkat kematangan dari seseorang". Ia menggabungkan beberapa gejala penyakit jiwa yang biasanya dianggap merefleksikan gangguan-gangguan terpisah dan benar-benar berbeda, yakni catatonia (selang-seling antara imobilitas dan agitasi, hebephrenia (emosionalitas yang dungu dan tidak matang), dan paranoia (delusi grandeur dan persekusi). gejala-gejala tersebut didasari oleh ciri-ciri yang sama dan dimasukkan dalam golongan keadaan yang sama.
- Eugen Bleuler (1857-1939)
Mengganti istilah dementia praecox menjadi skizofrenia berasal dari kata schistos, yang berarti terpotong atau terpecah dan phren yang berarti otak. Perbedaan Bleuler dengan Kraeplin adalah, ia tidak menerima bahwa skizofrenia harus bermula dari anak-anak, ia mengemukakan bahwa perkembangan skizofrenia lebih bervariasi.
Bleuler meyakini bahwa skizofrenia dapat dikenali berdasar empat ciri atau simtom primer. disebut juga dengan "empat A" :
1. Asosiasi : hubungan antara pikiran-pikiran menjadi terganggu, sekarang disebut gangguan pikir. maksudnya adalah setiap ide yang dikemukakan tidak memiliki keterikatan ( tidak nyambung ).
2. Afek : respon emosional menjadi datar atau tidak sesuai. misal, tertawa saat mendengar kabar teman meninggal.
3. Ambivalensi : memiliki perasaan ambivalen atau konflik perasaan terhadap satu orang, misalnya adalah membenci dan mencintai seseorang pada saat yang sama.
4. Autisme : Adalah istilah yang menjelaskan penarikan diri ke dunia fantasi pribadi yang tidak terikat prinsip logika.
Selain itu, Bleuler berpandangan bahwa halusinasi dan waham mewakili simtom sekunder, karena ia meyakini bahwa halusinasi dan waham adalah usaha untuk menggantikan dunia luar dengan dunia fantasinya.
1. Asosiasi : hubungan antara pikiran-pikiran menjadi terganggu, sekarang disebut gangguan pikir. maksudnya adalah setiap ide yang dikemukakan tidak memiliki keterikatan ( tidak nyambung ).
2. Afek : respon emosional menjadi datar atau tidak sesuai. misal, tertawa saat mendengar kabar teman meninggal.
3. Ambivalensi : memiliki perasaan ambivalen atau konflik perasaan terhadap satu orang, misalnya adalah membenci dan mencintai seseorang pada saat yang sama.
4. Autisme : Adalah istilah yang menjelaskan penarikan diri ke dunia fantasi pribadi yang tidak terikat prinsip logika.
Selain itu, Bleuler berpandangan bahwa halusinasi dan waham mewakili simtom sekunder, karena ia meyakini bahwa halusinasi dan waham adalah usaha untuk menggantikan dunia luar dengan dunia fantasinya.
- Kurt Schneider (1887-1967)
Membedakan ciri-ciri skizofrenia sebagai inti diagnosis dalam dua tingkat :
1. Simtom Peringkat Pertama, halusinasi dan delusi.
2. Simtom Peringkat kedua, simtom yang memiliki hubungan dengan skizofrenia namun juga terjadi pada gangguan mental lainnya
1. Simtom Peringkat Pertama, halusinasi dan delusi.
2. Simtom Peringkat kedua, simtom yang memiliki hubungan dengan skizofrenia namun juga terjadi pada gangguan mental lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar