Rabu, 20 Februari 2013

Gangguan Perilaku Kekerasan

sebuah kasus berdasar pengalaman observasi di RSJ Grhasia Pakem Sleman

22 Desember 2012, kami satu kelas mata kuliah gangguan mental mengunjungi RSJ Grhasia Pakem Sleman DIY, sekitar jam 9 pagi kami mendapat sambutan dari pihak Humas Rumah Sakit dan sedikit pembekalan untuk langsung bertemu dengan pasien. Kami tidak diizinkan untuk memotret dan memberikan alamat rumah kami pada pasien, untuk aturan pertama saya belum menemukan pembenaran untuk hal tersebut, namun untuk aturan kedua... ya bayangkan saja kalau salah satu pasien itu kelak berkunjung kerumah anda dalam keadaan "kambuh".

RSJ Grhasia Pakem, dulu dikenal sebagai RS Lalijiwo Pakem, kini juga memberikan pelayanan umum, termasuk pelayanan USG 4D ( empat dimensi ) yang kini menjadi trend di kalangan ibu-ibu hamil, namun disini kita tidak akan menjelaskan hal tersebut.

Pasien-pasien yang ada disini sangat bermacam-macam, ada yang tidak terlalu parah sampai ada yang masih parah, namun pemasungan pasien gangguan mental dan jiwa sudah TIDAK diperkenankan lagi untuk di lakukan. keragaman pasien dimulai dari orang biasa dengan latar belakang ekonomi sangat sederhana hingga pasien berwajah tampan dengan status mahasiswa Fakultas kedokteran sebuah Universitas Negeri terkemuka di Yogya ( sepertinya tidak disebut nama kampusnya pun sudah jelas ya ). Untuk tambahan saja, pasien tampan tersebut mengalami gangguan mental depresi karena "putus cinta", sebuah penyebab kasus yang luar biasa untuk seseorang dengan latar belakang pendidikan seperti dia, hal ini semakin membuktikan bahwa gangguan mental dapat diderita oleh siapapun dari kalangan apapun.

Kembali pada kasus gangguan perilaku kekerasan, di bangsal terakhir sebelum trip kami selesai, kami di kagetkan oleh seorang ibu dengan setelan warna biru tua dengan celana 3/4 dengan model khas pasien, sapaannya yang bersemangat menimbulkan keriuhan di bangsal, dan yang membuat saya kaget adalah, dia tau bahwa kampus kami Universitas Mercu Buana Yogyakarta sebelumnya bernama Wangsa Manggala dan terletak di Jalan Wates. 
Seluruh rombongan kami di salami satu per satu, kemudian dia memimpin nyanyian lagu-lagu populer zaman sekarang. Pembawaannya yang sangat ceria, optimis dan ekstrovert. ibu ini menceritakan penyakitnya dan penyebab ia ada di RSJ ini, bahkan ia tau jika sudah tiga belas kali keluar masuk RSJ Grhasia.

Sikap optimis, ekstrovert serta perubahan afek dengan energi yang seakan-akan tidak kenal lelah merupakan simtom dari gangguan perilaku kekerasan, pada ibu ini (  oya, saya memang tidak berniat menuliskan nama asli ibu ini, atas nama etika.., ya sebenarnya sih biar keren dan dianggap ber etika, hehehe.. ), kurang diketahui latar belakang gangguannya, yang pasti adalah dia sudah tiga belas kali keluar masuk dengan jenis gangguan yang sama, fakta bahwa ibu ini mengerti dengan kondisi gangguan serta hasil diagnosisnya, menunjukkan bahwa dia sudah mendekati kondisi "sembuh", hal ini sangat penting untuk kesembuhan jangka panjangnya, sebagai dasar dari ibu tersebut untuk mengenali gejala dan simtom yang muncul saat gangguannya akan muncul kembali.

Secara psikologis, ketika pasien sudah mengetahui dan menerima kondisi gangguannya ( segala jenis gangguan mental ), maka pasien memiliki kemungkinan sembuh yang cukup besar, hal ini berkaitan dengan strategi coping yang dapat digunakan pasien tersebut saat muncul gejala atau simtom gangguan. Pada orang yang memiliki efikasi diri tinggi, akan sangat membantu dalam proses penyembuhan secara nonfarmakologis.

intinya, gangguan mental, atau oleh orang awam disebut sakit jiwa, dapat disembuhkan dan kembali pada kondisi normal bahkan tanpa bantuan obat sekalipun, tergantung support keluarga, lingkungan dan masyarakat disekitarnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar