Senin, 18 Februari 2013

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA

FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA 


I. Faktor Biologis : 

  1. Bukti kuat tentang kontribusi genetis yang utama. 
  2. Ketidakteraturan dalam sistem neurotransmiter, terutama dopamin. 
  3. Ketidaknormalan otak, seperti kerusakan struktural atau deteriorasi jaringan atau terganggunya bagian otak yang mengatur fungsi kognitif dan emosional. 
  4. Kemungkinan adanya infeksi virus. 

II. Faktor Psikososial : pengalaman traumatis yang penuh tekanan, memberikan kontribusi terhadap perkembangan individu yang memiliki kerentanan genetis. 


III. Beberapa fakta dari faktor-faktor yang berkontribusi ; 

  1. Predisposisi genetic : seorang individu akan memiliki risiko yang lebih tinggi dalam mengembangkan kecenderungan skizofrenia apabila individu memiliki kembar identik yang menunjukan bahwa dia memiliki kecenderungan skizofrenia, meskipun mereka dibesarkan secara terpisah. Seorang anak dari orang tua yang salah satunya penderita skizofrenia akan memiliki risiko mengembangkan ganguan skizofrenia sebesar 12 persen sepanjang hidupnya, dan anak-anak dari kedua orang tua yang menderita skozofrenia akan memiliki risiko mengembangkan gangguan skizofernia sebesar 35-46 persen sepanjang hidupnya, dibandingkan dengan penderita pada masyarakat umum yang hanya sebesar 1-2 persen. 
  2. Abnormalitas pada struktur otak. Sebagian besar penderita skizofrenia memiliki abnormalitas pada struktur pada otak mereka, yang meliputi menyusutnya volume temporal lobe atau hipokampus, berkurangnya jumlah dari neuron yang terdapat di korteks prefrontal atau membesarnya ventricles, suatu ruang pada otak yang yang berisi cairan ceresbrospinal. Para penderita juga memiliki kecenderungan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang sehat untuk memiliki abnormalitas pada thalamus, pusat pengendali yang menyaring sensasi dan focus dari atensi kita, para penderita juga memiliki abnormalitas pada auditory cortex dan pada area bronco dan wernikle, yang dimana semua bagian tersebut terlibat dalam pemrosesan dan persepsi bicara. 
  3. Abnormalitas pada saraf penghantar. Skizofrenia selama ini telah diasosiasikan dengan abnormalitas pada beberapa saraf penghantar, termasuk serotonin, glutamate, dan dopamin. 
  4. Masalah prenatal dan komplikasi pada proses kelahiran. Kerusakan yang terjadi pada otak janin akan meningkatkan kemungkinan janin tersebut nantinya akan menderita skizofrenia. Kerusakan pada otak janin juga dapat terjadi jika ibu dari janin tersebuta menderita penyakit flu selama empat bulan pertama dari proses kelahiran. Kerusakan tersebut juga dapat terjadi bila terdapat komplikasi pada saat proses kalahiran yang menyebabkan cidera pada otak bayi, atau bayi mengalami kekurangan oksigen. Stress prenatal yang terjadi pada ibu maupun pada bayi akan meningkatkan factor resiko bayi nantinya mengembangkan jenis gangguan psikologi lainnya dalam kehidupan mereka, tidak hanya skizofrenia. 
  5. Abnormalitas pada perkembangan otak yang terjadi saat perkembangan remaja. Pada tahapan ini, secara alamiah otak melakukan pemotongan sinapsis yang tidak dibutuhkan. Pada umumnya proses ini membantu meningkatkan efisiensi pada otak dalam menangani tantangan-tantangan baru yang terjadi pada tahap perkembangan remaja. Namun pada penderita skizofrenia, proses pemotongan tersebut akan terjadi sangat cepat dan terlalu banyak sinapsis yang terpotong
Skizofrenia memiliki banyak penyebab, beberapa gen telah dikaitkan dengan gangguan itu, tetapi mekanisme bagaimana gen ini memberikan kontribusi pada skizofrenia belum ditetapkan, selain itu ada beragam faktor pengalaman usia dini yang terimplikasi dalam skizofrenia, seperti komplikasi persalinan, infeksi usia dini, reaksi autoimun, toksin, cedera traumatik dan stress. Pengalaman ini diduga mengubah perjalanan perkembangan neural yang normal, yang menghasilkan skizofrenia pada individu-individu yang mengalami kerentanan genetik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar