Kamis, 28 Maret 2013

Materi Kuliah Pengantar Intervensi Psikologi

Assalamualaikum Wr Wb

Apakabar ente-ente semua? nih We beri lagi materi kuliah Bu Kondang
semoga manfaat ye.. kalo ente-ente punya yang lain lagi, kasihlah kita info, otre!! biar sama-sama mutualisme gitu... ngerti kan?? sadapppp...
(masih tanpa password,we belum tau caranya kasi password)

Waalaikumsalam Wr Wb

sejarah psikologi klinis

pengertian psikologi klinis

pendekatan dalam psikologi klinis

Senin, 25 Maret 2013

materi kuliah METOPEN kualitatif

assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu

Hi alayers, nich we share materi kuliah MK kualitatif dosen Bu Sriningsih, mudah-mudahan banyak manfaatnya ye...

wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatu

pengantar metopen kualitatif
http://www.mediafire.com/view/?5qinh3r10jglpu1

pertemuan kedua
http://www.mediafire.com/view/?n4vb9o4lxire6k1

pertemuan ketiga
http://www.mediafire.com/view/?xtn382ty0wdbejk

materi keempat
http://www.mediafire.com/view/?posemlclipbg8s8

materi kelima
http://www.mediafire.com/view/?ot3v9oz8l72pgsy

materi keenam
http://www.mediafire.com/view/?crksoq5z7oh3p4h

Minggu, 17 Maret 2013

METOPEN Kualitatif atau Kuantitatif??ato keduanya?

Mau Ambil Apa ya???

Sebenarnya apasih metopen kualitatif itu? ato apa sih metopen kuantitatif itu?? Buat apa sih dua matakuliah itu? penting mana?

Metopen kualitatif merupakan mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa mengenai metode penelitian dimana pemahaman suatu penelitian merupakan hasil pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian di situasi alami yang tidak di kontrol, dengan kata lain, proses penelitian merupakan faktor paling penting daripada hasil penelitian. Singkatnya adalah kita mengamati subjek penelitian secara mendetail dan mendalam tanpa memberikan campur tangan apapun, oleh karena itu metodenya adalah wawancara dan observasi secara langsung supaya mendapatkan paparan mendalam tentang suatu penelitian. oya, metode kualitatif itu tidak ada hipotesis yang dibangun lho ya, dan hasilnya berupa kata-kata, bukan angka karena tidak mengalami proses statistik.

Sementara Metopen Kuantitatif merupakan penelitian yang kebanyakan menggunakan kuosioner yang disebar luas, tidak ada interaksi langsung antara peneliti dan subjek penelitian, oleh karena itu dalam penelitian kuantitatif, dibangun dalam batasan teori dan hipotesis, sementara hasilnya berupa angka. Penelitian ini hanya mencari hubungan dari sample-sample yang diteliti. untuk penjelasan mendalamnya nyusul ya...

Nah, tadi waktu kuliah metopen kualitatif, dijelaskan mengenai kedua matakuliah ini, hal ini berkaitan dengan target untuk menyelesaikan kuliah 7-8 semester maka diusahakan untuk mengambil keduanya (kuali dan kuanti), hal ini berkaitan dengan kuliah Teknik Penyusunan Skripsi kualitatif/kuantitatif (bisa jadi Proposal).

jadi buat rekan yang niat kuliah 7-8 semester, ambil aja keduanya, trus observasi dan wawancara juga diambil gak papa, yang diganti psi kognitif dan prakt psikodiagnostika.. (keduanya bukan mata kuliah prasyarat), terus yang terlanjur udah KRS an gimana?? ya perubahan aja... bawa KRS kamu (kertas karbon warna pink) ke DPA masing2, tulis mata kuliah yang mau di ambil dan coret yang diganti dan di tandatangani DPA, udah deh tinggal kasih ke Pak Kadi / Pak Marsam / Pak.... (lupa namanya).

Selesai....

oya, untuk kuliah metopen ini, siap-siap dengan tugas harian ya.. :D

Rabu, 27 Februari 2013

Diabetes Melitus Dalam Dimensi Biopsikologi

sebuah catatan ringan sebagai kenangan untuk Alm. Pak Syahid


Rabu 27 Februari 2013, sekitar pukul setengah sebelas dapat kabar dari teman yang menginformasikan bahwa Pak Syahid*, dosen saya yang mengajar matakuliah sosiologi dan kewarganegaraan di semester satu, wafat. Akhirnya setelah mencari informasi dari dosen, saya mengetahui alamat dan waktu pemakamannya, jam 4 sore akan dikebumikan, sekitar jam 3 sore saya berangkat dari rumah, tempat tinggalnya yang tidak terlalu jauh dari rumah saya, Pundong Tlogoadi Mlati Sleman, cukup mudah ditemukan. Mudah karena saat kebingungan cari alamat ketemu rekan yang sudah tahu rumah beliau.

Pak Syahid meninggal pada pukul 06.50 tanggal 27 Februari 2013 WIB di Rumah sakit (kalo tidak salah dengar sih panti rapih), meninggalkan seorang istri, 2 putra, dan 1 cucu.

Pertemuan kami terakhir terjadi di Rumah Sakit Panti Rapih, ruang Elizabeth lantai 3, sekitar 18 bulan yang lalu, saat itu saya masih "anak ingusan" di kampus, masih semester satu, setelah setengah semester perkuliahan, seusai ujian MID beliau sama sekali tidak mengajar hingga UAS karena sakit dan mondok di panti rapih, beliau terlihat lemah saat saya datang, namun masih bisa bercanda dengan sapaan "weh cah ndenggung...primadona ne mercubuana iki" saat memperkenalkan saya pada istri beliau dan salah satu putranya. Sedikit perbincangan kami, karena saya tahu beliau menahan rasa sakit saat itu, akhirnya saya pulang tanpa tahu apa sakit beliau.
Kejelasan mengenai kondisinya baru saya tahu saat akan UAS, waktu itu saya tanya pada karyawan kampus mengenai kesehatan beliau, waktu itu saya diberi tahu penyakitnya adalah "Gula".

DIABETES MELITUS

Gula, atau dikenal dalam istilah medis sebagai diabetes, diabetes adalah ; suatu penyakit dimana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulin yang dihasilkan tidak mencukupi atau insulin tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu akan menyebabkan gula darah meningkat.

Diabetes ada dua tipe utama : 

1. Diabetes Tipe 1 : Suatu keadaan dimana tubuh sudah sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Sehingga penderita harus menggunakan suntikan insulin dalam mengatur gula darahnya. 

2. Diabetes Tipe 2 : Terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin yang mencukupi atau karena insulin tidak dapat digunakan dengan baik (resistensi insulin).

Penyakit diabetes memiliki hubungan dengan sistem hormonal, salah satunya dengan kelenjar adrenal.

Adrenal adalah kelenjar endokrin berbentuk segitiga yang terletak di atas ginjal. Kelenjar ini bertanggung jawab pada pengaturan respon stress pada sintesis kortikosteroid dan katekolamin, termasuk kortisol dan hormon adrenalin 80 % dari kelenjar ini berupa korteks adrenal yang terdiri dari tiga zona, yaitu :

1. Zona Glomerulosa, Zona ini secara eksklusif memproduksi mineralokortikoid, terutama aldosteron. Efek aldosteron adalah meningkatkan jumlah natrium dan menurunkan jumlah kalium dalam cairan ekstraseluler, selama proses pembentukan urine. 

Efek berlebihnya kadar aldosteron: Menyebabkan hipokalemia, yaitu keadaan menurunnya konsentrasi kalium dalam plasma darah sampai di bawah nilai normal, Penderita mengalami kelemahan otot yang berat. 

Efek rendahnya kadar aldosteron: Konsentrasi ion kalium dalam cairan ekstraseluler meningkat sampai jauh di atas nilai normal, Peningkatan 60 – 100% dari nilai normal menyebabkan keracunan jantung. Peningkatan di atas itu, menyebabkan gagal jantung. 

2. Zona Fasikulata, Zona ini mensintesis glukokortikoid, terutama kortisol. Peran kortisol adalah mengontrol metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak ,membantu menolak efek destruktif dari stres mental dan fisik. Kortisol yang berlebih menyebabkan timbulnya sindrom Cushin yang ditandai oleh : 

a. Meningkatkan kadar glukosa darah (hiperglikemia). menurunnya protein, dan meningkatnya timbunan lemak. 

b. Glukosa tercampur dalam urine (glukosuria), mirip dengan DM sehingga disebut ‘Diabetes Adrenal’. 

c. Sebagian glukosa diendapkan sebagai lemak tubuh di atas bahu dan wajah, sehingga disebut ‘punuk kerbau’ (buffalo hump) dan ‘muka bulan’ (moon face). 

3. Zona Retikularis, Zona ini menghasilkan hormon seks adrenal (androgen dan estrogen) yang identik dengan yang dihasilkan gonad. Namun androgen dan estrogen adrenal ini tidak cukup kuat untuk menimbulkan efek maskulinitas dan feminitas.

maka dapat dipahami dari penjelasan di atas bahwa diabetes adrenal adalah penyakit diabetes yang dipengaruhi oleh kegagalan fungsi kelenjar adrenal terutama dalam zona fasikulata dalam tubuh yang menyebabkan sindrome cushin, sindrome inilah yang menjadi awal diabetes adrenal yang dapat menyebabkan gangguan sintesis insulin yang dihasilkan dari kelenjar Pankreas bagian endokrin. Contoh dalam kasus ini adalah diabetes melitus.

Sindrome Cushin

Adalah sindrom yang disebabkan berbagai hal seperti obesitas, impaired glucose tolerance, hipertensi, diabetes mellitus dan disfungsi gonadal yang berakibat pada berlebihnya rasio serum hormon kortisol. 

Penyakit ini timbul ketika kelenjar adrenal pada tubuh terlalu banyak memproduksi hormon kortisol, yang dikenal sebagai simtoma hiperkortisolisme. Apabila tidak mendapat penanganan atau terlambat, akan menghasilkan hiperglikemia ( suatu kondisi dimana glukosa yang beredar dalam darah terlalu tinggi ) dan dapat menjadi Diabetes adrenal yang berujung pada Diabetes Melitus (DM).

Dinamika Biologi Diabetes Melitus (DM)


Diabetes melitus sangat erat kaitannya dengan mekanisme pengaturan gula normal. Pada kondisi normal, kadar gula tubuh akan selalu terkendali, berkisar 70-110 mg/dL, oleh pengaruh kerja hormon insulin yang diproduksi oleh kalenjar pankreas.

Setiap sehabis makan, terjadi penyerapan makanan seperti tepung-tepungan (karbohidrat) di usus dan akan kadar gula darah meningkat. Peningkatan kadar gula darah ini akan memicu produksi hormon insulin oleh kalenjar pankreasBerkat pengaruh hormon insulin ini, gula dalam darah sebagian besar akan masuk ke dalam berbagai macam sel tubuh (terbanyak sel otot) dan akan digunakan sebagai bahan energi dalam sel tersebut. Sel otot kemudian menggunakan gula untuk beberapa keperluan yakni sebagai energi, sebagian disimpan sebagai glikogen dan jika masih ada sisa, sisa sebagian tersebut diubah menjadi lemak dan protein.

Apabila terjadi hiperglikemia, maka pankreas akan bekerja semakin berat untuk memproduksi insulin untuk mengkontrol gula darah, sehingga pada suatu tahap tertentu, maka proses tersebut akan gagal, insulin yang dihasilkan akan kurang untuk mengkontrol glukosa dalam darah, atau bahkan produksi insulin akan benar-benar berhenti tidak dapat memproses lagi.

Dinamika Psikologis Penderita Diabetes Melitus

Selain kadar gula darah yang tinggi, penderita DM memiliki ciri-ciri mudah lelah dan lemas, cepat haus dan lapar, berat badan tidak stabil. Bagi penderita yang tidak memiliki efikasi dan percaya diri yang tinggi, akan mudah mengalami gangguan mood hingga depresi yang cukup berat, padahal penderita DM akibat sindrome cushin, kortisol yang dihasilkan telah gagal dalam mendestruktif stress, padahal stres dan depresi memiliki peran dalam meningkatkan glukosa dalam darah. Kondisi yang semakin memburuk justru membuat gangguan lanjutan hingga jantung, kebutaan, stroke hingga kematian, sehingga penderita DM dapat menggunakan strategi coping sebelum kasusnya semakin parah.
Hingga saat ini belum ditemukan obat bagi penderita diabetes, namun melalui pola hidup sehat, diet yang tepat serta olahraga, gula darah dapat dikontrol.


Sumber 
Msi., Psi., Sriningsih, Dra. Psikologi Faal. Yogyakarta. Universitas Mercubuana Yogyakarta
Pinel. P.J.John. 2009. BIOPSIKOLOGI. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
http://terapidiabetesmelitus.com/info/ciri-ciri-diabetes-melitus-dan-resiko-komplikasinya diakses 27 Desember 2012 pukul 12.00 WIB
http://www.klinikdiabetesnusantara.com/pages/tentang-diabetes/apa-itu-diabetes.php diakses 27 Desember 2012 pukul 12.00 WIB
http://www.news-medical.net/health/What-is-Hyperglycemia-(Indonesian).aspx diakses 27 Desember 2012 pukul 12.00 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_Cushing diakses 27 Desember 2012 pukul 12.00 WIB




*tulisan ini diangkat ke dunia maya sebagai kenangan bagi dosen saya Bapak. Drs. H. Muhammad Syahid, M.Sc. yang meninggal pada hari ini 27 Februari 2013 pukul 06.50. pada usia 65 tahun. saya kurang tau apa penyebab meninggalnya beliau, hanya saja ketika beliau sakit dulu,penyakit inilah yang menjadi informasi sampai ke telinga saya. Semoga diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya.


















Senin, 25 Februari 2013

ACENG DAN GANGGUAN MENTAL

Fenomena Bupati Garut dan Perilaku Seksual Yang Normal atau Abnormal

Akhir November 2012, sebuah berita mengejutkan datang dari Garut, mengenai kasus nikah siri Bupati setempat, Aceng Fikri, dengan seorang remaja akhir berusia 18 tahun, yang kita sebut aja "bibi lung".
Pernikahan usia dini dapat dikatakan sebagai hal yang cukup biasa di Indonesia, toh almarhum nenek saya menikah ketika berusia 17 tahun dan memiliki anak satu tahun kemudian, hal yang juga terjadi pada budhe (Kakak perempuan orangtua) saya. Bahkan di masa kini pun, hal ini masih mudah dijumpai di daerah-daerah pelosok desa semacam Paliyan, Panggang, Phunthuk, semuanya didaerah kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta, bahkan kadang-kadang juga di tengah kota.

Pernikahan dini menjadi cukup luar biasa ketika dilakukan secara siri oleh seorang kepala daerah yang dihormati, dan menjadi lebih dahsyat luar biasanya ketika hanya berlangsung selama 4 hari dan menjadi super luar biasa ketika pihak wanita di ceraikan lewat SMS dengan alasan ketika menikah Fani sudah tidak perawan,tidak sesuai kesepakatan awal. yah perceraian hemat, hanya 350 rupiah jika beda operator atau gratis jika menggunakan paket berlangganan.

Tanpa melihat alasan kedua belah pihak terhadap pernikahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat di kaji dari sudut psikologi dari kasus ini.

Secara kesehatan reproduksi, pernikahan dini sangat membahayakan bagi pihak wanita, dalam hal ini Fani, terutama jika disusul dengan kehamilan, karena pada usia remaja, kebutuhan akan nutrisi gizi sangat tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya, begitu juga bagi janin dalam masa natal, jadi secara biologis, bagi seorang remaja hamil, akan terjadi "rebutan" nutrisi antara kebutuhan ibu dan janin, dan biasanya janin akan terkalahkan sehingga terjadi kelahiran prematur dengan bayi cacat bahkan retardasi mental.

Kembali pada perilaku seksual...

Sebuah pernyataan dasar mengenai perilaku seksual disebut normal atau abnormal, harus mempertimbangkan konteks budaya dan norma sosial dalam menentukan normal atau abnormal suatu perilaku. Pernyataan diatas akan menjadi pagar atau rambu-rambu dalam pembahasan kasus ini.

Alasan "keperawanan" yang dijadikan oleh Aceng untuk menceraikan Fani, merupakan sebuah alasan yang sangat nyata, yaitu seksual. Alasan ini dapat dijadikan asumsi dasar, bahwa pernikahan ini, bagi Aceng memiliki motif kepuasan seksual, hasilnya, karena tidak perawan, maka Aceng tidak puas (yang dihaluskan dengan istilah "penipuan" oleh Aceng) sehingga Fani pun di ceraikan lewat SMS, yang mungkin gratis.

Dalam beberapa kesempatan, Aceng menganalogikan sebuah pernikahan, seperti proses jual beli, dimana Fani merupakan barang yang diperjualbelikan dan karena dalam proses jual beli terjadi penipuan, tentang masalah keperawanan, maka Aceng mengembalikan barang tersebut, tanpa meminta kembali uang pembeliannya, meskipun hanya seperempatnya. Analogi ini pun menunjukkan bahwa Aceng memposisikan diri sebagai Raja, maksudnya pembeli. Hal inilah yang tidak dapat diterima oleh norma sosial maupun budaya bangsa kita, bahkan dalam jual-beli pun, ketika proses dibatalkan, pembeli harus bertemu langsung pada penjualnya untuk menyatakan alasan pembatalan jual belinya, dalam hal ini adalah Aceng seharusnya menemui langsung orangtua Fani, dan menyatakan talak dan alasannya.

Sejauh ini, dalam perkembangan kasus Bupati Aceng Fikri, yang kini sudah menjadi mantan Bupati, ternyata banyak memiliki kisah pernikahan siri dengan beberapa wanita, namun tidak ada penjelasan yang mengarahkan adanya gangguan perilaku seksual seperti Parafilia, Gangguan identitas gender atau disfungsi seksual. Namun bukan berarti Aceng benar-benar bebas gangguan mental yang lain, bisa jadi ia menderita Gangguan kepribadian antisosial (ASPD / maniak) atau Gangguan Kepribadian Narsistik, atau mungkin... Gangguan Identitas Disosiatif (sebelumnya disebut kepribadian ganda ), yang pasti, sulit untuk mengatakan bahwa dia sehat mental.

Dalam sebuah kasus jual beli, ada yang dilupakan oleh Aceng, bahwa selain istilah pembeli adalah raja, masih ada istilah lain, yaitu ; penjual adalah Dewa*.

*thanks to kang warto dan wartoismenya (angkringan depan kost lestari, klebengan)


Rabu, 20 Februari 2013

Gangguan Perilaku Kekerasan

sebuah kasus berdasar pengalaman observasi di RSJ Grhasia Pakem Sleman

22 Desember 2012, kami satu kelas mata kuliah gangguan mental mengunjungi RSJ Grhasia Pakem Sleman DIY, sekitar jam 9 pagi kami mendapat sambutan dari pihak Humas Rumah Sakit dan sedikit pembekalan untuk langsung bertemu dengan pasien. Kami tidak diizinkan untuk memotret dan memberikan alamat rumah kami pada pasien, untuk aturan pertama saya belum menemukan pembenaran untuk hal tersebut, namun untuk aturan kedua... ya bayangkan saja kalau salah satu pasien itu kelak berkunjung kerumah anda dalam keadaan "kambuh".

RSJ Grhasia Pakem, dulu dikenal sebagai RS Lalijiwo Pakem, kini juga memberikan pelayanan umum, termasuk pelayanan USG 4D ( empat dimensi ) yang kini menjadi trend di kalangan ibu-ibu hamil, namun disini kita tidak akan menjelaskan hal tersebut.

Pasien-pasien yang ada disini sangat bermacam-macam, ada yang tidak terlalu parah sampai ada yang masih parah, namun pemasungan pasien gangguan mental dan jiwa sudah TIDAK diperkenankan lagi untuk di lakukan. keragaman pasien dimulai dari orang biasa dengan latar belakang ekonomi sangat sederhana hingga pasien berwajah tampan dengan status mahasiswa Fakultas kedokteran sebuah Universitas Negeri terkemuka di Yogya ( sepertinya tidak disebut nama kampusnya pun sudah jelas ya ). Untuk tambahan saja, pasien tampan tersebut mengalami gangguan mental depresi karena "putus cinta", sebuah penyebab kasus yang luar biasa untuk seseorang dengan latar belakang pendidikan seperti dia, hal ini semakin membuktikan bahwa gangguan mental dapat diderita oleh siapapun dari kalangan apapun.

Kembali pada kasus gangguan perilaku kekerasan, di bangsal terakhir sebelum trip kami selesai, kami di kagetkan oleh seorang ibu dengan setelan warna biru tua dengan celana 3/4 dengan model khas pasien, sapaannya yang bersemangat menimbulkan keriuhan di bangsal, dan yang membuat saya kaget adalah, dia tau bahwa kampus kami Universitas Mercu Buana Yogyakarta sebelumnya bernama Wangsa Manggala dan terletak di Jalan Wates. 
Seluruh rombongan kami di salami satu per satu, kemudian dia memimpin nyanyian lagu-lagu populer zaman sekarang. Pembawaannya yang sangat ceria, optimis dan ekstrovert. ibu ini menceritakan penyakitnya dan penyebab ia ada di RSJ ini, bahkan ia tau jika sudah tiga belas kali keluar masuk RSJ Grhasia.

Sikap optimis, ekstrovert serta perubahan afek dengan energi yang seakan-akan tidak kenal lelah merupakan simtom dari gangguan perilaku kekerasan, pada ibu ini (  oya, saya memang tidak berniat menuliskan nama asli ibu ini, atas nama etika.., ya sebenarnya sih biar keren dan dianggap ber etika, hehehe.. ), kurang diketahui latar belakang gangguannya, yang pasti adalah dia sudah tiga belas kali keluar masuk dengan jenis gangguan yang sama, fakta bahwa ibu ini mengerti dengan kondisi gangguan serta hasil diagnosisnya, menunjukkan bahwa dia sudah mendekati kondisi "sembuh", hal ini sangat penting untuk kesembuhan jangka panjangnya, sebagai dasar dari ibu tersebut untuk mengenali gejala dan simtom yang muncul saat gangguannya akan muncul kembali.

Secara psikologis, ketika pasien sudah mengetahui dan menerima kondisi gangguannya ( segala jenis gangguan mental ), maka pasien memiliki kemungkinan sembuh yang cukup besar, hal ini berkaitan dengan strategi coping yang dapat digunakan pasien tersebut saat muncul gejala atau simtom gangguan. Pada orang yang memiliki efikasi diri tinggi, akan sangat membantu dalam proses penyembuhan secara nonfarmakologis.

intinya, gangguan mental, atau oleh orang awam disebut sakit jiwa, dapat disembuhkan dan kembali pada kondisi normal bahkan tanpa bantuan obat sekalipun, tergantung support keluarga, lingkungan dan masyarakat disekitarnya. 

Senin, 18 Februari 2013

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA

FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA 


I. Faktor Biologis : 

  1. Bukti kuat tentang kontribusi genetis yang utama. 
  2. Ketidakteraturan dalam sistem neurotransmiter, terutama dopamin. 
  3. Ketidaknormalan otak, seperti kerusakan struktural atau deteriorasi jaringan atau terganggunya bagian otak yang mengatur fungsi kognitif dan emosional. 
  4. Kemungkinan adanya infeksi virus. 

II. Faktor Psikososial : pengalaman traumatis yang penuh tekanan, memberikan kontribusi terhadap perkembangan individu yang memiliki kerentanan genetis. 


III. Beberapa fakta dari faktor-faktor yang berkontribusi ; 

  1. Predisposisi genetic : seorang individu akan memiliki risiko yang lebih tinggi dalam mengembangkan kecenderungan skizofrenia apabila individu memiliki kembar identik yang menunjukan bahwa dia memiliki kecenderungan skizofrenia, meskipun mereka dibesarkan secara terpisah. Seorang anak dari orang tua yang salah satunya penderita skizofrenia akan memiliki risiko mengembangkan ganguan skizofrenia sebesar 12 persen sepanjang hidupnya, dan anak-anak dari kedua orang tua yang menderita skozofrenia akan memiliki risiko mengembangkan gangguan skizofernia sebesar 35-46 persen sepanjang hidupnya, dibandingkan dengan penderita pada masyarakat umum yang hanya sebesar 1-2 persen. 
  2. Abnormalitas pada struktur otak. Sebagian besar penderita skizofrenia memiliki abnormalitas pada struktur pada otak mereka, yang meliputi menyusutnya volume temporal lobe atau hipokampus, berkurangnya jumlah dari neuron yang terdapat di korteks prefrontal atau membesarnya ventricles, suatu ruang pada otak yang yang berisi cairan ceresbrospinal. Para penderita juga memiliki kecenderungan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang sehat untuk memiliki abnormalitas pada thalamus, pusat pengendali yang menyaring sensasi dan focus dari atensi kita, para penderita juga memiliki abnormalitas pada auditory cortex dan pada area bronco dan wernikle, yang dimana semua bagian tersebut terlibat dalam pemrosesan dan persepsi bicara. 
  3. Abnormalitas pada saraf penghantar. Skizofrenia selama ini telah diasosiasikan dengan abnormalitas pada beberapa saraf penghantar, termasuk serotonin, glutamate, dan dopamin. 
  4. Masalah prenatal dan komplikasi pada proses kelahiran. Kerusakan yang terjadi pada otak janin akan meningkatkan kemungkinan janin tersebut nantinya akan menderita skizofrenia. Kerusakan pada otak janin juga dapat terjadi jika ibu dari janin tersebuta menderita penyakit flu selama empat bulan pertama dari proses kelahiran. Kerusakan tersebut juga dapat terjadi bila terdapat komplikasi pada saat proses kalahiran yang menyebabkan cidera pada otak bayi, atau bayi mengalami kekurangan oksigen. Stress prenatal yang terjadi pada ibu maupun pada bayi akan meningkatkan factor resiko bayi nantinya mengembangkan jenis gangguan psikologi lainnya dalam kehidupan mereka, tidak hanya skizofrenia. 
  5. Abnormalitas pada perkembangan otak yang terjadi saat perkembangan remaja. Pada tahapan ini, secara alamiah otak melakukan pemotongan sinapsis yang tidak dibutuhkan. Pada umumnya proses ini membantu meningkatkan efisiensi pada otak dalam menangani tantangan-tantangan baru yang terjadi pada tahap perkembangan remaja. Namun pada penderita skizofrenia, proses pemotongan tersebut akan terjadi sangat cepat dan terlalu banyak sinapsis yang terpotong
Skizofrenia memiliki banyak penyebab, beberapa gen telah dikaitkan dengan gangguan itu, tetapi mekanisme bagaimana gen ini memberikan kontribusi pada skizofrenia belum ditetapkan, selain itu ada beragam faktor pengalaman usia dini yang terimplikasi dalam skizofrenia, seperti komplikasi persalinan, infeksi usia dini, reaksi autoimun, toksin, cedera traumatik dan stress. Pengalaman ini diduga mengubah perjalanan perkembangan neural yang normal, yang menghasilkan skizofrenia pada individu-individu yang mengalami kerentanan genetik.

Tipe SKIZOFRENIA

TIPE-TIPE SKIZOFRENIA

    1. Tipe Paranoid : sangat mencolok dalam delusi (terutama grandeur, persekusi, cemburu) dan halusinasi. ketrampilan kognitif dan afek relatif utuh,  tidak mengalami pembicaraan maupun perilaku yang terdisorganisasi maupun afek datar  dan prognosis lebih baik dibanding tipe lainnya.
    2. Tipe disorganisasi : perilaku dan pembicaraan yang aneh dan membingungkan, halusinasi yang nyata, afek datar dan tidak sesuai, delusi yang tidak terorganisasi. individu mengalami kesulitan sejak usia dini, jarang menunjukkan perbaikan yang menjadi ciri pada bentuk lain.
    3. Tipe Katatonik : Gangguan nyata dalam aktifitas motorik dimana perilaku mungkin melambat, menjadi stupor, namun secara tiba-tiba berubah menjadi teragitasi, sering mengulang kata2 orang lain (echolalia) atau gerakan orang lain (echopraxia).
    4. Tipe tak terbedakan : individu menunjukkan gejala skizofrenia namun tidak tepat diklasifikasikan dalam subtipe-subtipe tersebut di atas.
    5. Tipe Residual : individu  hanya pernah mengalami setidaknya satu episode skizofrenia tetapi tidak lagi memanifestasikan gejala-gejala utamanya.

Ciri-Ciri Yang Lazim dalam Skizofrenia


CIRI-CIRI DALAM SKIZOFRENIA :

Delusi yang ganjil : seperti keyakinan bahwa anjing adalah mahluk luar angkasa yang menyamar sebagai hewan peliharaan. Beberapa penderita skizofrenia mengalami delusi identitas, meyakini bahwa mereka adalah musa, yesus atau orang terkenal lainnya. Ada juga yang mengalami delusi paranoid, menganggap peristiwa yang terjadi bertujuan untuk menyakiti mereka.
Halusinasi : pengalaman sensorik yang palsu, namun sangat nyata. Sejauh ini halusinasi yang umum terjadi pada para penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara, hal ini dapat dikatakan sebagai tanda dari penyakit ini.
Pembicaraan yang tidak terorganisir, tidak keheren : Biasanya terdiri dari kumpulan ide dan simbol yang tidak masuk akal. Seorang penderita skizofernia menuliskan, “minyak olive adalah sause-minuman keras yang berasal dari arab, yang digunakan oleh masyarakat afganistan, moors, dan muslim pada peternakan unta”
Perilaku yang tidak terorganisir dan tidak sesuai : yang memiliki rentang mulai dari kebodohan anak-anak , hingga agitasi yang kasar dan tidak dapat diprediksi. Seorang penderita dapat memakai tiga mantel dan sarung tangan di hari yang panas, mengumpulkan sampah atau menyinpan sisa-sisa makanan.
Penyakit pada kemampuan kognitif : mereka yang menderita skizofrenia memiliki kemampuan yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang sehat, pembicaraan mereka seringkali memiliki kualitas yang buruk, mereka hanya memberikan jawaban yang singkat dan kosong dalam suatu percakapan, yang disebabkan oleh kurangnya pemikiran dan bukan karena keengganan untuk berbicara.
Sebagian dari gejala-gejala ini mungkin saja muncul beberapa bulan sebelum munculnya halusinasi dan delusi, dan sering kali gejala tersebut akan menetap meskipun gejala dramatis lainnya mulai menghilang. Sebagai contoh, banyak sekali penderita skizofrenia kehilangan motivasi untuk mengurus dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain, mereka mungkin saja berhenti berkerja atau mandi, menjadi terisolir dan menarik diri , emosional mereka terlihat rata, ekspresi wajah terlihat tidak responsive dan mereka sering kali menghindari kontak dengan mata orang lain. Beberapa penderita seringkali benar-benar menarik dirinya kedalam dunia pribadinya dan mampu berdiam diri selama berjam-jam tanpa bergerak sama sekali yang sering disebut dengan catatonic stupor.

SEJARAH SKIZOFRENIA


SEJARAH SKIZOFRENIA

    1. Emile Kraeplin (1856-1926)
Adalah seorang bapak psikiatri modern, menyebut gangguan skizofrenia sebagai dementia praecox, dari bahasa latin yang diartikan sebagai "sebelum tingkat kematangan dari seseorang". Ia menggabungkan beberapa gejala penyakit jiwa yang biasanya dianggap merefleksikan gangguan-gangguan terpisah dan benar-benar berbeda, yakni catatonia (selang-seling antara imobilitas dan agitasi, hebephrenia (emosionalitas yang dungu dan tidak matang), dan paranoia (delusi grandeur dan persekusi). gejala-gejala tersebut didasari oleh ciri-ciri yang sama dan dimasukkan dalam golongan keadaan yang sama.

    1. Eugen Bleuler (1857-1939)
Mengganti istilah dementia praecox menjadi skizofrenia berasal dari kata schistos, yang berarti terpotong atau terpecah dan phren yang berarti otak. Perbedaan Bleuler dengan Kraeplin adalah, ia tidak menerima bahwa skizofrenia harus bermula dari anak-anak, ia mengemukakan bahwa perkembangan skizofrenia lebih bervariasi.
Bleuler meyakini bahwa skizofrenia dapat dikenali berdasar empat ciri atau simtom primer. disebut juga dengan "empat A" :
1. Asosiasi : hubungan antara pikiran-pikiran menjadi terganggu, sekarang disebut gangguan pikir. maksudnya adalah setiap ide yang dikemukakan tidak memiliki keterikatan ( tidak nyambung ).
2. Afek : respon emosional menjadi datar atau tidak sesuai. misal, tertawa saat mendengar kabar teman meninggal.
3. Ambivalensi : memiliki perasaan ambivalen atau konflik perasaan terhadap satu orang, misalnya adalah membenci dan mencintai seseorang pada saat yang sama.
4. Autisme : Adalah istilah yang menjelaskan penarikan diri ke dunia fantasi pribadi yang tidak terikat prinsip logika.

Selain itu, Bleuler berpandangan bahwa halusinasi dan waham mewakili simtom sekunder, karena ia meyakini bahwa halusinasi dan waham adalah usaha untuk menggantikan dunia luar dengan dunia fantasinya.


    1. Kurt Schneider (1887-1967)
Membedakan ciri-ciri skizofrenia sebagai inti diagnosis dalam dua tingkat :
1.   Simtom Peringkat Pertama, halusinasi dan delusi.
2. Simtom Peringkat kedua, simtom yang memiliki hubungan dengan skizofrenia namun juga terjadi pada gangguan mental lainnya
                                             

Minggu, 17 Februari 2013

Pengertian SKIZOFRENIA



PENGERTIAN SKIZOFRENIA

Istilah skizofrenia berarti terbelahnya fungsi psikis. Istilah ini dilontarkan pada awal abad ke-20 untuk mendeskripsikan apa yang pada masa itu diduga sebagai gejala utama gangguan itu,yaitu rusaknya integrasi antara emosi, pikiran, dan tindakan.

Skizofrenia adalah gangguan yang ditandai oleh munculnya delusi, halusinasi, ketidakteraturan, dan cara bicara yang tidak keheren, perilaku yang tidak sesuai dan gangguan kognitif. Skizofrenia adalah kanker dari penyakit mental : sukar dipahami, kompleks, dan memiliki berbagai variasi bentuk ( Wade&Tavris, 2007 ).

Kesulitan utama dalam memahami skizofrenia adalah untuk mendefinisikannya secara akurat (Heinrich,2005; Krueger & Markon,2006 dalam Pinel, 2009). Hal ini dikarenakan gejala-gejalanya kompleks dan beragam serta tumpang tindih dengan gejala gangguan psikiatrik lainnya, bahkan ada berbagai macam gangguan neurologis ( seperti epilepsi, parkinson, alzheimer ) yang berhubungan dengan gejala-gejala yang mungkin menghasilkan diagnosis skizofrenia.