Jumat, 03 Februari 2012



KASUS NUNUN NURBAETI
(Sebuah pandangan neurosains dan psikologis[1])



[1] Pandangan kasus dari sudut psikologis dan keterkaitannya pada neurosains



PENDAHULUAN
            Berawal dari kasus cek pelawat yang melibatkan mantan deputi gubernur Bank Indonesia, Miranda goeltom dan beberapa politisi kenamaan dari senayan, menyeret sosok Nunun nurbaeti, istri dari mantan wakapolri Adang dorojatun, yang menjadi fenomenal karena kisah kaburnya ke luar negeri dan penyakit hilang ingatan yang menurut pemberitaan dialami oleh Nunun nurbaeti yang juga dibenarkan oleh asisten serta dokter pribadinya, ada begitu banyak macam berita mengenai penyakitnya itu, mulai dari vertigo berat, amnesia hingga alzheimer, melalui artikel-artikel ini, akan mencoba melihat kasus tersebut dari sisi psikologis yang berkaitan dengan syaraf  dan otak sesuai teori yang ada sejauh ini.
            http://fokus.vivanews.com/news/read/223148-seberapa-bahaya-vertigo-nunun-nurbaeti, 27 Mei 2011, dari kesaksian sumarni, mantan sekretaris Nunun, dalam kesaksiannya di pengadilan tipikor, Nunun tidak menderita amnesia, namun menderita vertigo, yang menyebabkan ia sering mengalami pingsan dan  sumarni juga menyatakan saat bertemu di apartemennya di Singapore, Nunun tidak lupa pada dirinya bahkan berbincang membahas masalah pekerjaan dengan baik.
            Lalu apa sebenarnya vertigo, ataupun amnesia tersebut?
            http://nasional.kompas.com/read/2011/12/14/17554618/Dokter.Neurologi.hingga.Psikolog.Akan.Tangani.Penyakit.Nunun, RS Polri yang menangani nunun, telah bekerjasama dengan dokter syaraf hingga psikolog untuk memeriksa Nunun, karena pihak keluarga mengatakan bahwa Nunun mengalami amnesia berat. (12/12/2011)
            Dari rentang waktu yang tidak jauh tersebut,antara 27 mei – 12 Desember 2011, sebuah rentang waktu yang tidak jauh menurut pandangan kami, telah ada perubahan berita yang cukup jauh, antara vertigo hingga amnesia adalah dua penyakit dengan penjelasan yang sangat berbeda.
TINJAUAN PUSTAKA
            Lalu, apakah sebenarnya penyakit vertigo? Bagaimana gejala dan pengobatannya? Apakah vertigo begitu berbahaya sehingga penderitanya seperti Nunun tak bisa hadir ke tengah persidangan? 

            Vertigo adalah penyakit dengan gejala rasa pusing, dan berat di kepala. Saat serangan datang, penderita vertigo merasakan sensasi seolah-olah lingkungan di sekelilingnya berputar. Seperti dikutip dari Daily Mail, vertigo biasanya adalah tanda adanya penyakit lain pada tubuh pasien. Namun bisa juga, vertigo berhubungan dengan radang telinga bagian dalam (labyrinthitis), atau infeksi telinga.
            Vertigo kronis disebut Meniere. Penderitanya rutin mengalami pingsan dan muntah serta telinga berdenging. Bagaimana dengan timbulnya vertigo yang melibatkan organ otak sentral? Selain akibat cedera atau memar pada kepala belakang, ini bisa terjadi karena suplai darah ke otak berkurang atau tak lancar. Bila aliran darah ke otak kecil kurang dari 50 ml/detik, maka seseorang akan mengalami vertigo, yang apabila tidak segera ditanggulangi bisa menimbulkan stroke. Pemeriksaan dengan alat canggih MRI (magnetic resonance imaging) akan mengungkap jelas apakah penderita benar mengalami gangguan pada pembuluh darah otak.
vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.
Kelainan ini terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer, kelainan pada telinga sering menyebabkan vertigo. Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokter THT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi)
Lalu, apa yang dimaksud dengan amnesia?
Amnesia (dari Bahasa Yunani Ἀμνησία) adalah kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan, seperti terjadi pada transient global amnesia[1]. Jenis amnesia global ini umum terjadi mulai usia pertengahan sampai usia tua, terutama pada pria, dan biasanya berlangsung kurang dari 24 jam.
Dampak lain dari amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan. Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa amnesia dengan kerusakan pada hipokampus tidak dapat membayangkan masa depan. Hal ini terjadi karena bila seorang yang normal membayangkan masa depan, mereka menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi. Sebagai contoh, seseorang yang mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dalam pesta yang hendak didatanginya akan menggunakan pengalaman pesta sebelumnya untuk membantu mengkonstruksi kejadian pada masa depan.
§                 Anterograde amnesia: kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat.
§                     Retrograde amnesia: ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa.
Kedua kategori amnesia tersebut dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama. Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia).
            Jenis dan penyebab amnesia sangat beragam. Yang paling banyak ditemukan adalah amnesia neurologis yang dipicu oleh cedera fisik di sekitar kepala, sedangkan yang lebih jarang adalah amnesia disosiatif akibat stres kebanyakan pikiran.
Neurosains
            Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan gangguan yang berhubungan dengan sistem kerja otak, melibatkan sistem syaraf, baik pusat maupun perifer, sehingga penanganan untuk kasus seperti ini adalah penangana dari neurosains, sebuah cabang ilmu yang mempelajari tentang syaraf, lalu apa penjelasan ilmiah dari neurosains?
Neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf atau sistem neuron. Area studimencakup struktur,fungsi,sejarah evolusi,perkembangan, genetika, biokimia, fisiologi, farmakologi, informatika, penghitungan neurosains dan patologi sistem saraf. Awalnya merupakan cabang dari ilmu biologi, namun ilmu ini telah berkembang dan menarik berbagai jenis ilmu lain untuk memanfaatkan pendekatan neurosains termasuk diantaranya adalah kognitif, neuro-psikologi, ilmu komputer, statistika, fisika dan kedokteran.
Rentang bidang neurosains telah meluas dengan mengikut sertakan percobaan ilmiah secara sistematis maupun penyelidikan teoritis darisistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi dari organisme biologis. Metodologi empiris yang digunakan oleh ilmuwan neurosains saat ini telah berkembang dengan cepat.
Saat ini neurosains sudah melibatkan beberapa eksperimental saintifik sistematik dan investigasi teoritis atas sistem syaraf pusat dan periferal dari organisme biologik. Metodologi empirik yang digunakan oleh para neurosaintis telah berkembang dari analisis biokimia dan genetika dari dinamika sel-sel syaraf individual dan unsur-unsur pokok molekularnya hingga penyajian citra perseptual dan aktivitas motorik dalam otak. Bahkan saat ini sudah dilakukan pemodelan komputasional untuk mendukung neurosains.
Secara umum, neurosains mencakup semua bidang ilmu saintifik yang terkait dengan sistem syaraf. Psikologi, sebagai studi saintifik proses mental, dapat dianggap sebagai sub-bidang neurosains, walaupun beberapa teoris pikiran/tubuh tidak setuju dengan hal ini - menurut mereka, psikologi adalah studi proses-proses mental yang dapat dimodelkan dengan berbagai macam prinsip-prinsip dan teori-teori abstrak, seperti psikologi perilaku dan kognitif tradisional, dan itu tidak berhubungan dengan proses-proses syaraf. Istilah neurobiologi kadang dipakai sebagai ganti dari neurosains, walaupun istilah yang pertama merujuk pada biologi-nya sistem syaraf.
Neurolog dan Psikiater merupakan bidang khusus kedokteran yang secara spesifik mempelajari penyakit pada sistem syaraf. Istilah ini merujuk pada disiplin klinik yang menyangkut diagnosa dan perawatan dari penyakit ini. Neurologi berkaitan dengan penyakit dari sistem syaraf pusat dan periferal seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) dan stroke, sedangkan Psikiater fokus pada penyakit mental. Batasan antara kedua semakin kabur hingga sat ini dan dokter spesialis salah satunya sering mendapatkan pelatihan keduanya. Neurolog dan Psikiater banyak dipengaruhi oleh riset-riset dasar neurosains. (http://agfi.staff.ugm.ac.id/blog/index.php/2008/12/apa-itu-neurosains-neuroscience/)
PEMBAHASAN
            Kasus Nunun nurbaeti telah dapat dikerucutkan dalam fakta periodik, bahwa hilangnya ingatan Nunun tidak menghilangkan ingatan masa lalunya, sebelum kasus cek pelawat ini di angkat ke permukaan, jika dilihat pada hilangnya ingatan setelah adanya kejadian yang menyebabkan amnesia, hal ini dapat dikatakan sebagai Amnesia antrerograde, karena Nunun masih dapat mengingat peristiwa pra kejadian, namun, nunun juga sangat mampu mengingat segala hal pasca kejadian cek pelawat tersebut, sehingga hanya ingatannya tentang kasus tersebut yang hilang.
            Ada banyak kemungkinan dalam kasus seperti ini, mulai bagaimana cara Nunun mengingat, bagaimana sistem penyimpanan memori dalam otak nunun, dan bagaimana mekanisme lupa, yang terjadi pada diri Nunun.
            Sebuah fakta kasus adalah, Nunun memang memiliki masalah kesehatan, dan dia hilang ingatan, khususnya pada kasus cek pelawat yang sudah pasti menguras fisik dan emosinya, pada dasarnya amnesia merupakan hilangnya sebagian atau keseluruhan memori yang berkaitan dengan informasi personal yang penting (wade,tavris II : 90 ), dengan masalah sedemikian berat bagi seseorang, otomatis kondisi psikologis akan terganggu, yang menyebabkan psychogenic amnesia, suatu keadaan dimana dia butuh menghilangkan rasa terhina, malu, tertekan, kecewa dan keterkejutan sosial yang dapat menghilangkan amnesia besar-besaran, jelas ada rasa kecewa, malu, dan keterkejutan sosial yang dialami oleh nunun, mulai dari sosoknya sebagai istri mantan Wakapolri, komisaris perusahaan besar, menjadi tertuduh pada kasus dimana ia hanya sebagi artis figuran. Namun amnesia ini biasanya dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama, tetapi dalam kasus nunun ini ada kemungkinan bahwa selama kondisi psikologisnya belum pulih, sejalan dengan kasusnya, penyakit ini belum akan pulih.
            Ada sebuah teori lain tentang amnesia, yaitu amnesia traumatik, dimana penderita akan mengalami dalam waktu yang sangat lama, tahunan, namun akan pulih dengan sempurna karena kebal terhadap distorsi dan konfabulasi, seperti yang dikemukakan oleh freud, bahwa pikiran kita akan melindungi dirinya sendiri terhadap memori yang tidak diinginkan atau mengganggu, melalui proses Represi, mekanisme ketidaksadaran yang mendorong informasi yang bersifat mengancam atau mengganggu.
            Mungkin pandangan terakhir lebih sesuai untuk kasus Nunun, dimana dia merasa bahwa informasi yang dia miliki tentang kasus cek pelawat ini dapat membahayakan dirinya, sehingga alam bawah sadarnya akan melakukan proses represi untuk melindungi dirinya. Tetapi, banyak ilmuwan yang menolak pandangan seperti ini karena kurang adanya bukti-bukti dalam penelitian dewasa ini. Namun dalam sudut pandang dimana politik dapat mempengaruhi sisi ekonomi, sosial, budaya hingga segala apek kehidupan, ada banyak kemungkinan dalam sebuah teori pemahaman kasus.
            MRI- EEG- TMS, mungkin harus dilakukan pada otak Nunun, agar muncul kesimpulan valid tentang kondisi otak Nunun, baru dapat ditentukan apa yang terjadi sebenarnya dengan Nunun, hingga saat ini tidak ada keterangan resmi dari pemerintah maupun penyidik tentang hasil pemeriksaan Nunun, sehingga langkah selanjutnya pun sulit dipastikan apa yang terjadi pada nunun.

PANDANGAN UMUM
            Ada beberapa pandangan ilmiah yang coba dikemukakan dalam karya ilmiah ini mengenai kasus Nunun nurbaeti :
1.      Mood Congruent memory – State dependent memory, sebagai seorang saksi sebuah kasus berat, Nunun sebenarnya diharuskan berada dalam kondisi terbaik, sangat tenang, agar dapat menyamakan dengan kondisi saat ia mengalami informasi yang ditanyakan oleh pengadilan (state-dependent memory), namun ia tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup, dan ia tahu bahwa informasi yang ia miliki dapat menyeretnya dalam masalah lebih jauh, sehingga ia berusaha menghilangkan depresi dengan menyingkirkan ingatan yang membahayakannya itu (mood-congruent memory).
2.      Represi, Kesadarannya mengenai resiko membahayakan yang akan ia dapat dari terungkapnya informasi yang ia miliki, membuat ingatannya menutup mengenai informasi tersebut, dalam teori freud, bahwa pikiran kita akan melindungi dirinya sendiri dari memori yang tidak diinginkan, jelas dalam kasus ini Nunun sangat tidak menginginkan informasi yang ia miliki ini.
3.      Psikogenik Amnesia, suatu keadaan dimana dia butuh menghilangkan rasa terhina, malu, tertekan, kecewa dan keterkejutan sosial yang dapat menghilangkan amnesia besar-besaran, jelas ada rasa kecewa, malu, dan keterkejutan sosial yang dialami oleh nunun, mulai dari sosoknya sebagai istri mantan Wakapolri, komisaris perusahaan besar, menjadi tertuduh pada kasus dimana ia hanya sebagi artis figuran. Namun amnesia ini biasanya dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama, tetapi dalam kasus nunun ini ada kemungkinan bahwa selama kondisi psikologisnya belum pulih, sejalan dengan kasusnya, penyakit ini belum akan pulih.
PSIKOLOGI MORAL
Dalam teori perkembangan moral Piaget, bagi seseorang dengan usia diatas 10 tahun,  manusia memahami moral secara, Autonomous Morality, tahap perkembangan moral mulai usia 10 tahun keatas, anak mulai sadar bahwa keadilan dan peraturan diciptakan manusia dalam menilai tindakan seseorang dimana maksud dari tindakan tersebut juga di pertimbangkan, anak mulai bisa menerima perubahan dan patuh pada patuh sesuai kesepakatan.
Dalam kasus Nunun, seharusnya ia tahu secara sadar, bahwa ada konsekuensi atas segala tindakannya, dan secara moral, manusia wajib menjalani konsekuensi tersebut, dalam penelitian ini, tidak ada keraguan apakah ia berpura-pura atau nyata sesuai keadaannya, sehingga penelitian berdasar materi yang ada, berdasar keadaan Nunun yang memang hilang ingatan, namun dari sisi moral, menurut teori piaget, bahwa kondisi tubuh dapat menyesuaikan dengan segala langkah yang diambil oleh pemikiran kognitif manusia, sangat disayangkan bagaimana perilaku nunun dimasa lalu dan kondisinya sekarang yang justru semakin merugikan dirinya maupun orang lain.
Nunun sadar akan konsekuensi moral yang kini dialaminya, hal ini berdasar teori autonomous morality milik piaget, hingga kondisi mendekati psikogenik amnesia menjadi acuan yang sepertinya mendekati perilaku nunun saat ini.
KESIMPULAN
            MRI- EEG- TMS, adalah hal yang sangat direkomendasikan untuk  dilakukan oleh para dokter pada otak Nunun, agar muncul kesimpulan valid tentang kondisi otak Nunun, kemudian baru dapat ditentukan apa yang terjadi sebenarnya dengan Nunun, hingga saat ini tidak ada keterangan resmi dari pemerintah maupun penyidik tentang hasil pemeriksaan Nunun, sehingga langkah selanjutnya pun sulit dipastikan apa yang terjadi pada nunun.
            Faktor kognitif tidak berfungsi dengan semestinya, hingga moralitas tidak tampak dalam perilaku Nunun, tekanan psikologis menjadi faktor utama dalam kondisi kesehatan Nunun, karena kesempurnaan ingatannya akan masa lalu dan ingatan masa kininya, hanya ingatan tentang kasus inilah yang ia lupakan, sebuah kondisi yang dipengaruhi bawah sadarnya untuk menghilangkan informasi yang mengancamnya dan kesadarannya untuk segera lepas dari permasalahannya, sebuah naluri manusia untuk hidup bebas.
REFERENSI
Santrock, John W. 2002. Perkembangan masa hidup. Jakarta : erlangga
Wade Carole, Travis Carol. 2002. PSIKOLOGI JILID I. Jakarta : erlangga
Wade Carole, Travis Carol. 2002. PSIKOLOGI JILID II. Jakarta : erlangga
            Berawal dari kasus cek pelawat yang melibatkan mantan deputi gubernur Bank Indonesia, Miranda goeltom dan beberapa politisi kenamaan dari senayan, menyeret sosok Nunun nurbaeti, istri dari mantan wakapolri Adang dorojatun, yang menjadi fenomenal karena kisah kaburnya ke luar negeri dan penyakit hilang ingatan yang menurut pemberitaan dialami oleh Nunun nurbaeti yang juga dibenarkan oleh asisten serta dokter pribadinya, ada begitu banyak macam berita mengenai penyakitnya itu, mulai dari vertigo berat, amnesia hingga alzheimer, melalui artikel-artikel ini, akan mencoba melihat kasus tersebut dari sisi psikologis yang berkaitan dengan syaraf  dan otak sesuai teori yang ada sejauh ini.
            http://fokus.vivanews.com/news/read/223148-seberapa-bahaya-vertigo-nunun-nurbaeti, 27 Mei 2011, dari kesaksian sumarni, mantan sekretaris Nunun, dalam kesaksiannya di pengadilan tipikor, Nunun tidak menderita amnesia, namun menderita vertigo, yang menyebabkan ia sering mengalami pingsan dan  sumarni juga menyatakan saat bertemu di apartemennya di Singapore, Nunun tidak lupa pada dirinya bahkan berbincang membahas masalah pekerjaan dengan baik.
            Lalu apa sebenarnya vertigo, ataupun amnesia tersebut?
            http://nasional.kompas.com/read/2011/12/14/17554618/Dokter.Neurologi.hingga.Psikolog.Akan.Tangani.Penyakit.Nunun, RS Polri yang menangani nunun, telah bekerjasama dengan dokter syaraf hingga psikolog untuk memeriksa Nunun, karena pihak keluarga mengatakan bahwa Nunun mengalami amnesia berat. (12/12/2011)
            Dari rentang waktu yang tidak jauh tersebut,antara 27 mei – 12 Desember 2011, sebuah rentang waktu yang tidak jauh menurut pandangan kami, telah ada perubahan berita yang cukup jauh, antara vertigo hingga amnesia adalah dua penyakit dengan penjelasan yang sangat berbeda.

TINJAUAN PUSTAKA
            Lalu, apakah sebenarnya penyakit vertigo? Bagaimana gejala dan pengobatannya? Apakah vertigo begitu berbahaya sehingga penderitanya seperti Nunun tak bisa hadir ke tengah persidangan? 

            Vertigo adalah penyakit dengan gejala rasa pusing, dan berat di kepala. Saat serangan datang, penderita vertigo merasakan sensasi seolah-olah lingkungan di sekelilingnya berputar. Seperti dikutip dari Daily Mail, vertigo biasanya adalah tanda adanya penyakit lain pada tubuh pasien. Namun bisa juga, vertigo berhubungan dengan radang telinga bagian dalam (labyrinthitis), atau infeksi telinga.
            Vertigo kronis disebut Meniere. Penderitanya rutin mengalami pingsan dan muntah serta telinga berdenging. Bagaimana dengan timbulnya vertigo yang melibatkan organ otak sentral? Selain akibat cedera atau memar pada kepala belakang, ini bisa terjadi karena suplai darah ke otak berkurang atau tak lancar. Bila aliran darah ke otak kecil kurang dari 50 ml/detik, maka seseorang akan mengalami vertigo, yang apabila tidak segera ditanggulangi bisa menimbulkan stroke. Pemeriksaan dengan alat canggih MRI (magnetic resonance imaging) akan mengungkap jelas apakah penderita benar mengalami gangguan pada pembuluh darah otak.
vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.
Kelainan ini terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer, kelainan pada telinga sering menyebabkan vertigo. Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokter THT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi)
Lalu, apa yang dimaksud dengan amnesia?
Amnesia (dari Bahasa Yunani Ἀμνησία) adalah kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan, seperti terjadi pada transient global amnesia[1]. Jenis amnesia global ini umum terjadi mulai usia pertengahan sampai usia tua, terutama pada pria, dan biasanya berlangsung kurang dari 24 jam.
Dampak lain dari amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan. Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa amnesia dengan kerusakan pada hipokampus tidak dapat membayangkan masa depan. Hal ini terjadi karena bila seorang yang normal membayangkan masa depan, mereka menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi. Sebagai contoh, seseorang yang mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dalam pesta yang hendak didatanginya akan menggunakan pengalaman pesta sebelumnya untuk membantu mengkonstruksi kejadian pada masa depan.
§                     Anterograde amnesia: kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat.
§                     Retrograde amnesia: ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa.
Kedua kategori amnesia tersebut dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama. Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia).
            Jenis dan penyebab amnesia sangat beragam. Yang paling banyak ditemukan adalah amnesia neurologis yang dipicu oleh cedera fisik di sekitar kepala, sedangkan yang lebih jarang adalah amnesia disosiatif akibat stres kebanyakan pikiran.
Neurosains
            Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan gangguan yang berhubungan dengan sistem kerja otak, melibatkan sistem syaraf, baik pusat maupun perifer, sehingga penanganan untuk kasus seperti ini adalah penangana dari neurosains, sebuah cabang ilmu yang mempelajari tentang syaraf, lalu apa penjelasan ilmiah dari neurosains?
Neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf atau sistem neuron. Area studimencakup struktur,fungsi,sejarah evolusi,perkembangan, genetika, biokimia, fisiologi, farmakologi, informatika, penghitungan neurosains dan patologi sistem saraf. Awalnya merupakan cabang dari ilmu biologi, namun ilmu ini telah berkembang dan menarik berbagai jenis ilmu lain untuk memanfaatkan pendekatan neurosains termasuk diantaranya adalah kognitif, neuro-psikologi, ilmu komputer, statistika, fisika dan kedokteran.
Rentang bidang neurosains telah meluas dengan mengikut sertakan percobaan ilmiah secara sistematis maupun penyelidikan teoritis darisistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi dari organisme biologis. Metodologi empiris yang digunakan oleh ilmuwan neurosains saat ini telah berkembang dengan cepat.
Saat ini neurosains sudah melibatkan beberapa eksperimental saintifik sistematik dan investigasi teoritis atas sistem syaraf pusat dan periferal dari organisme biologik. Metodologi empirik yang digunakan oleh para neurosaintis telah berkembang dari analisis biokimia dan genetika dari dinamika sel-sel syaraf individual dan unsur-unsur pokok molekularnya hingga penyajian citra perseptual dan aktivitas motorik dalam otak. Bahkan saat ini sudah dilakukan pemodelan komputasional untuk mendukung neurosains.
Secara umum, neurosains mencakup semua bidang ilmu saintifik yang terkait dengan sistem syaraf. Psikologi, sebagai studi saintifik proses mental, dapat dianggap sebagai sub-bidang neurosains, walaupun beberapa teoris pikiran/tubuh tidak setuju dengan hal ini - menurut mereka, psikologi adalah studi proses-proses mental yang dapat dimodelkan dengan berbagai macam prinsip-prinsip dan teori-teori abstrak, seperti psikologi perilaku dan kognitif tradisional, dan itu tidak berhubungan dengan proses-proses syaraf. Istilah neurobiologi kadang dipakai sebagai ganti dari neurosains, walaupun istilah yang pertama merujuk pada biologi-nya sistem syaraf.
Neurolog dan Psikiater merupakan bidang khusus kedokteran yang secara spesifik mempelajari penyakit pada sistem syaraf. Istilah ini merujuk pada disiplin klinik yang menyangkut diagnosa dan perawatan dari penyakit ini. Neurologi berkaitan dengan penyakit dari sistem syaraf pusat dan periferal seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) dan stroke, sedangkan Psikiater fokus pada penyakit mental. Batasan antara kedua semakin kabur hingga sat ini dan dokter spesialis salah satunya sering mendapatkan pelatihan keduanya. Neurolog dan Psikiater banyak dipengaruhi oleh riset-riset dasar neurosains. (http://agfi.staff.ugm.ac.id/blog/index.php/2008/12/apa-itu-neurosains-neuroscience/)

PEMBAHASAN
            Kasus Nunun nurbaeti telah dapat dikerucutkan dalam fakta periodik, bahwa hilangnya ingatan Nunun tidak menghilangkan ingatan masa lalunya, sebelum kasus cek pelawat ini di angkat ke permukaan, jika dilihat pada hilangnya ingatan setelah adanya kejadian yang menyebabkan amnesia, hal ini dapat dikatakan sebagai Amnesia antrerograde, karena Nunun masih dapat mengingat peristiwa pra kejadian, namun, nunun juga sangat mampu mengingat segala hal pasca kejadian cek pelawat tersebut, sehingga hanya ingatannya tentang kasus tersebut yang hilang.
            Ada banyak kemungkinan dalam kasus seperti ini, mulai bagaimana cara Nunun mengingat, bagaimana sistem penyimpanan memori dalam otak nunun, dan bagaimana mekanisme lupa, yang terjadi pada diri Nunun.
            Sebuah fakta kasus adalah, Nunun memang memiliki masalah kesehatan, dan dia hilang ingatan, khususnya pada kasus cek pelawat yang sudah pasti menguras fisik dan emosinya, pada dasarnya amnesia merupakan hilangnya sebagian atau keseluruhan memori yang berkaitan dengan informasi personal yang penting (wade,tavris II : 90 ), dengan masalah sedemikian berat bagi seseorang, otomatis kondisi psikologis akan terganggu, yang menyebabkan psychogenic amnesia, suatu keadaan dimana dia butuh menghilangkan rasa terhina, malu, tertekan, kecewa dan keterkejutan sosial yang dapat menghilangkan amnesia besar-besaran, jelas ada rasa kecewa, malu, dan keterkejutan sosial yang dialami oleh nunun, mulai dari sosoknya sebagai istri mantan Wakapolri, komisaris perusahaan besar, menjadi tertuduh pada kasus dimana ia hanya sebagi artis figuran. Namun amnesia ini biasanya dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama, tetapi dalam kasus nunun ini ada kemungkinan bahwa selama kondisi psikologisnya belum pulih, sejalan dengan kasusnya, penyakit ini belum akan pulih.
            Ada sebuah teori lain tentang amnesia, yaitu amnesia traumatik, dimana penderita akan mengalami dalam waktu yang sangat lama, tahunan, namun akan pulih dengan sempurna karena kebal terhadap distorsi dan konfabulasi, seperti yang dikemukakan oleh freud, bahwa pikiran kita akan melindungi dirinya sendiri terhadap memori yang tidak diinginkan atau mengganggu, melalui proses Represi, mekanisme ketidaksadaran yang mendorong informasi yang bersifat mengancam atau mengganggu.
            Mungkin pandangan terakhir lebih sesuai untuk kasus Nunun, dimana dia merasa bahwa informasi yang dia miliki tentang kasus cek pelawat ini dapat membahayakan dirinya, sehingga alam bawah sadarnya akan melakukan proses represi untuk melindungi dirinya. Tetapi, banyak ilmuwan yang menolak pandangan seperti ini karena kurang adanya bukti-bukti dalam penelitian dewasa ini. Namun dalam sudut pandang dimana politik dapat mempengaruhi sisi ekonomi, sosial, budaya hingga segala apek kehidupan, ada banyak kemungkinan dalam sebuah teori pemahaman kasus.
            MRI- EEG- TMS, mungkin harus dilakukan pada otak Nunun, agar muncul kesimpulan valid tentang kondisi otak Nunun, baru dapat ditentukan apa yang terjadi sebenarnya dengan Nunun, hingga saat ini tidak ada keterangan resmi dari pemerintah maupun penyidik tentang hasil pemeriksaan Nunun, sehingga langkah selanjutnya pun sulit dipastikan apa yang terjadi pada nunun.

PANDANGAN UMUM
            Ada beberapa pandangan ilmiah yang coba dikemukakan dalam karya ilmiah ini mengenai kasus Nunun nurbaeti :
1.      Mood Congruent memory – State dependent memory, sebagai seorang saksi sebuah kasus berat, Nunun sebenarnya diharuskan berada dalam kondisi terbaik, sangat tenang, agar dapat menyamakan dengan kondisi saat ia mengalami informasi yang ditanyakan oleh pengadilan (state-dependent memory), namun ia tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup, dan ia tahu bahwa informasi yang ia miliki dapat menyeretnya dalam masalah lebih jauh, sehingga ia berusaha menghilangkan depresi dengan menyingkirkan ingatan yang membahayakannya itu (mood-congruent memory).
2.      Represi, Kesadarannya mengenai resiko membahayakan yang akan ia dapat dari terungkapnya informasi yang ia miliki, membuat ingatannya menutup mengenai informasi tersebut, dalam teori freud, bahwa pikiran kita akan melindungi dirinya sendiri dari memori yang tidak diinginkan, jelas dalam kasus ini Nunun sangat tidak menginginkan informasi yang ia miliki ini.
3.      Psikogenik Amnesia, suatu keadaan dimana dia butuh menghilangkan rasa terhina, malu, tertekan, kecewa dan keterkejutan sosial yang dapat menghilangkan amnesia besar-besaran, jelas ada rasa kecewa, malu, dan keterkejutan sosial yang dialami oleh nunun, mulai dari sosoknya sebagai istri mantan Wakapolri, komisaris perusahaan besar, menjadi tertuduh pada kasus dimana ia hanya sebagi artis figuran. Namun amnesia ini biasanya dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama, tetapi dalam kasus nunun ini ada kemungkinan bahwa selama kondisi psikologisnya belum pulih, sejalan dengan kasusnya, penyakit ini belum akan pulih.
PSIKOLOGI MORAL
Dalam teori perkembangan moral Piaget, bagi seseorang dengan usia diatas 10 tahun,  manusia memahami moral secara, Autonomous Morality, tahap perkembangan moral mulai usia 10 tahun keatas, anak mulai sadar bahwa keadilan dan peraturan diciptakan manusia dalam menilai tindakan seseorang dimana maksud dari tindakan tersebut juga di pertimbangkan, anak mulai bisa menerima perubahan dan patuh pada patuh sesuai kesepakatan.
Dalam kasus Nunun, seharusnya ia tahu secara sadar, bahwa ada konsekuensi atas segala tindakannya, dan secara moral, manusia wajib menjalani konsekuensi tersebut, dalam penelitian ini, tidak ada keraguan apakah ia berpura-pura atau nyata sesuai keadaannya, sehingga penelitian berdasar materi yang ada, berdasar keadaan Nunun yang memang hilang ingatan, namun dari sisi moral, menurut teori piaget, bahwa kondisi tubuh dapat menyesuaikan dengan segala langkah yang diambil oleh pemikiran kognitif manusia, sangat disayangkan bagaimana perilaku nunun dimasa lalu dan kondisinya sekarang yang justru semakin merugikan dirinya maupun orang lain.
Nunun sadar akan konsekuensi moral yang kini dialaminya, hal ini berdasar teori autonomous morality milik piaget, hingga kondisi mendekati psikogenik amnesia menjadi acuan yang sepertinya mendekati perilaku nunun saat ini.

KESIMPULAN
            MRI- EEG- TMS, adalah hal yang sangat direkomendasikan untuk  dilakukan oleh para dokter pada otak Nunun, agar muncul kesimpulan valid tentang kondisi otak Nunun, kemudian baru dapat ditentukan apa yang terjadi sebenarnya dengan Nunun, hingga saat ini tidak ada keterangan resmi dari pemerintah maupun penyidik tentang hasil pemeriksaan Nunun, sehingga langkah selanjutnya pun sulit dipastikan apa yang terjadi pada nunun.
            Faktor kognitif tidak berfungsi dengan semestinya, hingga moralitas tidak tampak dalam perilaku Nunun, tekanan psikologis menjadi faktor utama dalam kondisi kesehatan Nunun, karena kesempurnaan ingatannya akan masa lalu dan ingatan masa kininya, hanya ingatan tentang kasus inilah yang ia lupakan, sebuah kondisi yang dipengaruhi bawah sadarnya untuk menghilangkan informasi yang mengancamnya dan kesadarannya untuk segera lepas dari permasalahannya, sebuah naluri manusia untuk hidup bebas.

REFERENSI

Santrock, John W. 2002. Perkembangan masa hidup. Jakarta : erlangga
Wade Carole, Travis Carol. 2002. PSIKOLOGI JILID I. Jakarta : erlangga
Wade Carole, Travis Carol. 2002. PSIKOLOGI JILID II. Jakarta : erlangga